Peran Wanita Sebagai Ibu Dalam Islam

  • 19 September 2022
  • Admin

Peran wanita sebagai ibu dalam islam. Di dalam sebuah rumah tangga seorang wanita memiliki peran penting  dalam pertumbuhan anak-anaknya nanti  menjadi seorang yang shalih dan shalihah. Karena sehari-hari bertemu dengan anak dirumah adalah ibu , makanya orang arab mengatakan,

“ Ibu adalah sekolah pertama bagi kehidupan setiap insan ”

Allah ta’ala  Berfirman

“Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-Baqarah: 221)

Jika seorang istri shalihah yang dipilih pasti akan mendapatkan keberuntungan. Karena,

“Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi”. (HR. Bukhari, no. 5090 dan Muslim, no. 1446; dari Abu Hurairah)

Seorang istri juga harus baik akhlaknya dan benar-benar berpegang pada agamanya. Cobalah lihat penilaian kaum Maryam kepada Maryam ketika ia melahirkan Isa tanpa bapak

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 28)

Maksud ayat tersebut adalah bapak Maryam itu adalah orang shalih, tak mungkin anaknya adalah orang yang berperilaku jelek. Ibunya pun wanita shalihah, tak mungkin anaknya menjadi wanita pelacur.

Jadi awal mula nya itu dari orang tua , anak itu akan menjadi baik..

PERAN WANITA SEBAGAI SEORANG ISTRI

Disaat seorang suami yang lagi merasa kesulitan , kegundahan, keterpurukan  maka istri lah yang mempunyai peran penting untuk membantunya. Menenangkan, menyemangati nya. Istilah yang memiliki pengaruh besar bagi suami . contoh teladan kaum muslimah Khadijah Radhiyallahu anha ketika mendampingi Rasulullah di masa kenabiannya . ketika itu  Rasulullah merasakan ketakutan terhadap wahyu yang diberikan kepadanya, dan merasa kesulitan, lalu apa yang dikatakan Khadijah kepadanya?

“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Pangkat tertinggi adalah seorang nabi, dan ujian paling berat di dunia ini adalah  menjadi seorang nabi. Maka dari itu tidak ada obat yang dapat menenangkan bagi Rasulullah  dalam menerima amanah nubuwahnya melainkan istri yang sangat dicintai.

Hingga Aisyah pernah merasa cemburu kepada Khadijah, dan berkata  “Kenapa engkau sering menyebut perempuan berpipi merah itu, padahal Allah telah menggantikannya untukmu dengan yang lebih baik?” Lantas Rasulullah marah dan bersabda: “Bagaimana engkau berkata demikian?  Sungguh dia beriman kepadaku pada saat orang-orang menolakku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia mendermakan seluruh hartanya untukku pada saat semua orang menolak membantuku, dan Allah memberiku rezeki darinya berupa keturunan.” (HR Ahmad dengan Sanad yang Hasan)

Begitulah   kecintaan Rasulullah kepada Khadijah, dan demikianlah seharusnya bagi seorang wanita muslimah di dalam keluarganya. Tidak ada yang diinginkan bagi seorang suami melainkan seorang istri yang dapat menerimanya apa adanya, percaya dan yakin kepadanya dan selalu membantunya ketika sulitnya.

peran yang seperti inilah  seharusnya dilakukan oleh seorang wanita. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang perlu dilakukan wanita, Namun menjadi pendamping seorang pemimpin (pemimpin rumah tangga atau lainnya) yang dapat membantu, mengarahkan dan menenangkan adalah hal yang sangat mulia jika di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala.